Skip to content

GAMBARAN UMUM PROSES PEMBUATAN SEMEN

Februari 20, 2009

Salah satu jenis semen yang umum digunakan untuk bangunan biasa adalah semen Portland Type 1 General Purpose menurut spesifikasi ASTM C 150.

Semen portland didefinisikan sebagai produk yang didapatkan dari penggilingan halus klinker yang terdiri terutama dari kalsium silikat hidraulik, dan mengandung satu atau dua bentuk kalsium silikat sebagai tambahan antargiling. Kalsium silikat hidraulik mempunyai kemampuan mengeras tanpa pengeringan atau reaksi dengan karbon dioksida udara, dan karena itu berbeda dengan perekat (pengikat) anorganik seperti plaster paris. Reaksi yang berlangsung pada pengerasan semen adalah hidrasi dan hidrolisis. [Austin]

Adapun proses pembuatan semen secara umum pada pabrik Semen adalah sebagai berikut :


Elemen dasar pembuatan semen adalah batu kapur (lime stone) dan tanah liat (clay).

Batu kapur diledakkan sehingga berbentuk bongkahan untuk memudahkan pengangkutan oleh beberapa buah dump truck. Agar lebih mudah dalam proses selanjutnya dan dicampur dengan clay pada komposisi tertentu di dalam transfer tower.

Keempat bahan baku, yaitu : batu kapur (lime stone), tanah liat (clay), pasir silica (silica sand) dan pasir besi (iron ore) di tempatkan dalam storage. Batu kapur dicampur dengan tanah liat di storage mix. Sedangkan pasir besi, pasir silika dan batu kapur murni (belum dicampur dengan tanah liat) ditempatkan dalam satu gudang yaitu additive storage. Batu kapur murni ini disimpan jika sewaktu-waktu komposisi batu kapur yang digunakan harus lebih banyak dari pada tanah liat. Bahan baku tadi kemudian ditempatkan dalam bin-bin tersendiri yang merupakan tempat penyimpanan material sementara. Selanjutnya ditimbang di weight feeder untuk mendapatkan komposisi yang diinginkan.

Melewati belt conveyor, bahan baku tersebut dimasukkan ke dalam raw mill yaitu alat penggiling dengan 4 roller penggerus. Di dalam raw mill, bahan baku digiling sekaligus dipanaskan untuk mengurangi kandungan air dari material. Hasil keluaran berupa material bubuk dengan kandungan air 10 % dengan temperatur 60 C yang disebut meal. Meal ini ditampung dalam blending silo (BL). Proses pengadukan yang terjadi pada BL ini dilakukan dengan cara meniupkan udara masuk ke dalam BL agar material didalam tercampur dengan material yang baru masuk, sehingga meal lebih homogen sebelum dimasukkan ke kiln. Setelah keluar dari BL, contoh meal diambil oleh unit QC (Quality Control) untuk diteliti komposisi senyawa-senyawanya di laboratorium, apakah sesuai dengan standar atau tidak.

Meal yang telah diaduk dalam BL dimasukkan ke preheater (PH) untuk dipanaskan sampai terjadi calcination yaitu proses penguraian CaCO3 menjadi CaO dan CO2 pada suhu 860 C. Preheater terdiri dari 5 tingkatan cyclone dan sebuah calciner yang dapat menghasilkan 90 % proses calcinasi sebelum meal masuk ke kiln. Panas diperoleh dari proses pembakaran di dalam calciner dan juga oleh aliran gas panas dari kiln. Bahan bakar utama yang digunakan adalah coal (batu bara). Meal tersebut dipanaskan lanjut dalam kiln yang termperaturnya mencapai 1450 C – 1500 C. Meal dibakar sampai terjadi reaksi-reaksi kimia antara lime stone dan additive .

Meal yang keluar dari kiln disebut klinker dengan temperatur 1450 C, kemudian didinginkan (clinker cooling) secara cepat dengan menghembuskan udara bebas ke permukaan klinker (quenching). Clinker cooler mendinginkan klinker dari suhu 1450 C menjadi 100 C saat keluar dari cooler. Klinker masih berbentuk blok-blok atau bulatan-bulatan besar (diameter 0,1 m) yang kemudian ukurannya direduksi lewat suatu alat pemecah yang disebut hammer crusher, sehingga didapatkan ukuran butiran klinker yang sesuai ( diameter 1 – 3 cm ).

Sebelum ditampung di clinker silo, sampelnya diambil untuk diketahui komposisinya, disesuaikan dengan standar semen Portland Type 1. Klinker yang ada dalam silo, kemudian diproses dalam cement mill yaitu penggilingan klinker ditambah dengan gypsum. berupa ball mill dengan bola-bola baja sebagai media penggiling. Klinker dicampur dengan gypsum (kandungan gypsum sekitar 3 % – 5 %) dimasukkan kedalam mill, digiling bersama bola-bola baja sampai dihasilkan semen berbentuk powder yang selanjutnya disimpan ke dalam cement silo.

Bahan yang ditambahkan ke klinker bisa juga berupa gypsum natural atau syntetic dan additive lain seperti pozzolan, slag, dan lime stone sesuai dengan spesifikasi yang diinginkan. Semen yang dihasilkan diambil sampelnya untuk diketahui komposisi serta sifat-sifat fisiknya, untuk selanjutnya dikirim ke bagian pengantongan atau packing plant.

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: